fenomena mempertahankan idealisme tiap individu terbentuk dengan latar belakang yang berbeda tergantung apa yang pernah mereka alami dalam hidupnya, faktor ekonomi, sosial budaya, dan beragam faktor lainnya yang membuat idealisme seseorang tertanam dalam dirinya demi penggapai sebuah keinginan dan harapan.
Ditengah-tengah dinamika kehidupan, ketidakberdayaan dan kemapuan, tetaplah tersirat optimisme dalam diri. dalam setiap perjalanan yang terlewati penuh dengan banyak kenangan, yang kadang terasa manis namun tetaplah masih menjadi teka-teki yang harus terpecahkan yang terkadang susah untuk menjawab apa yang telah terlalui dalam hidup, saat kata yang seharusnya tertawan di dada terlanjur tumpah ke bumi, saat laku yang mesti terpasung terlanjur terkulai dimakan waktu. Sadar atau tidak atas apa yang terlalui, terkadang membuat kekerdilan muncul dalam optimisme yang sedang menganga di dalam batin.
Setiap waktu yang bergulir meninggalkan banyak kisah, saat bahagia terkadang tidak ingat apa yang pernah dialami, membuat ketidakpercayaan mulai muncul ke relung kalbu, meski disaat ini pula idealism dan optimisme tetaplah tertanam kuat dalam benak. Keadaan sekitar yang mendukung ketidakpercayaan diri semakin menjauhkannya ke dalam dunia lain yang tidak ingin diselami.
Bola kemunafikan perlahan mulai menggelinding ke urat-urat nadi, pelan namun pasti membuatnya makin gerah meski tetap bertahan dalam kemirisan. Niat tulus untuk membahagiakan orang-orang terkasih yang telah membesarkan sejak dalam rahim, membuat ku lebih memilih untuk bertahan di jalan itu, dan sangat yakin jalan itupun bisa mempertemukan jalan yang aku telah rangkai dalam kisah sebelumnya.
Berpegangan dengan sebutan ketulusan membuat aku menyadari akan hasil yang didapat dari dunia yang awalnya kemunafikan , aku semakin bersyukur atas apa yang ku alami selama ini, proses kemunafikan dalam ketulusan membuatku terus yakin untuk jalan yang disebut idealismenya dan optimismenya.
Tulisan ini hanya sebatas curat-coret sebagai pelampiasan belaka …
9.4.10
refleksi ketidak percayaan dan optimisme


0 komentar:
Post a Comment